About Environment

Selasa, 04 November 2014

METANA

Metana adalah  hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimiaCH4. Metana murni tidak berbau, tapi jika digunakan untuk keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi.

Pada suhu ruangan dan tekanan standar, metana adalah gas yang tidak berwarna darn tidak berbau.  Metana mempunyai titik didih −161 °C (−257.8 °F) pada tekanan 1 atmosfer. Sebagai gas, metana hanya mudah terbakar bila konsentrasinya mencapai 5-15% di udara. Metana yang berbentuk cair tidak akan terbakar kecuali diberi tekanan tinggi (4-5 atmosfer).

Metana merupakan komponen utama pada gas alam, sekitar 87% dari volume. Saat ini, metana dihasilkan dari ekstraksi diladang gas alam. Gas alam pada level dangkal (tekanan rendah) dibentuk oleh dekomposisi anaerob beberapa substansi organik dan membentuk metana dari dalam, jauh dari permukaan bumi. Secara umum, endapan ini terkubur jauh di dalam dan karena mengalami suhu dan tekanan tinggi, maka terbentuklah gas alam.

Selain ladang gas, banyak aktivitas hidup manusia yang secara otomatis dapat menghasilkan metan.Misalnya peternakan, pertanian terutama penanaman padi, aktifitas ini menghasilkan metana dalam jumlah besar selama proses dan pertumbuhannya. Bahkan sebuah studi yang paling baru pada tahun 2009 menyebutkan bahwa 51% emisi gas rumah kaca global dihasilkan oleh siklus hidup dan rantai pengiriman produk ternak, Saat ini, hewan ternak adalah penyumbang 16% emisi metana dunia ke atmosfer.

Untuk tujuan komersiil, ada metode alternatif untuk mendapatkan metana, yaitu melalui biogas yang dihasilkan oleh fermentasi substansi organik, misalnya pupuk kandang, limbah cair, dan  sampah pada kondisi anaerob (tanpa oksigen), Metana hidrat/klarat merupakan salah satu sumber masa depan metana yang potensial, karena metana dapat digunakan sebagai energi alternatif yang dapat menggantikan energi fosil yang selama ini menjadi sumber energi utama yang digunakan untuk keperluan hidup manusia.

Seperti kita ketahui bersama, saat ini masyarakat dunia sedang disibukkan dengan berbagai upaya untuk menguragi global warming atau pemanasan global dimana suhu bumi meningkat drastis yang mengakibatkan berbagai bencana di seluruh dunia. Akan tetapi saat seluruh masyarakat dunia terfokus  pada  efek rumah kaca, dimana suhu bumi meningkat karena meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfir, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa metana lebih berbahaya dibanding CO2.

Metana di atmosfer bumi merupakan salah satu gas rumah kaca yang utama, dengan potensi pemanasan global 25 kali lebih besar daripada CO2 dalam periode 100 tahun,  Hal ini berarti, emisi metana lebih mempunyai efek 25 kali lipat daripada emisi karbon dioksida dengan jumlah yang sama dalam periode 100 tahun. Metana mempunyai efek yang besar dalam jangka waktu pendek (waktu "hidup" 8,4 tahun di atmosfer), sedangkan karbon dioksida mempunyai efek kecil dalam jangka waktu lama (lebih dari 100 tahun). Konsentrasi metana di atmosfer sudah meningkat 150% dari tahun 1750 dan menyumbang 20% efek radiasi yang dihasilkan gas rumah kaca secara global.

Jadi secara singkat dapat dijelaskan ketika seluruh masyarakat dunia berusaha mengatasi pemanasan global, maka dua hal yang harus dilakukan, yaitu mengendalikan  metana dan mengurangi CO2 di atmosfir, karena dua gas  inilah yang menjadi sumber utama pemanasan global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar